MAKALAH
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas Pelayanan KB
“METODE
AMINORE LAKTASI”
Dosen pembimbing :
Erma Herdiana
S.SiT.M.Kes
Fahriza Rachmatun Nisak (Bd.DH.2013.172)
Hilda Nur Choiriyah (Bd.DH.2013.078)
Nurul Adha (Bd.DH.2013.092)
Putu Ratih Vika .H (Bd.DH.2013.096)
Umi Rohmawati (Bd.DH.2013.103)
Via
Wulan Puspita (Bd.DH.2013.104)
Tingkat II
B
AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA KEDIRI
TAHUN AKADEMIK 2014 / 2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
saya panjatkan kehadirat Allah SWT.Yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyeleseikan penyusunan makalah yang membahas
tentang “Metode Aminore Laktasi” tepat pada
waktunya. Makalah ini
disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah Pelayanan
KB
Dengan
terseleseikannya makalah ini, kami mengucapkan terimakasih kepada :
1.
Erma Herdyana, S. SiT, M.Kes , selaku
pembimbing yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.
2.
Semua anggota kelompok yang telah
bekerjasama untuk menyeleseikan makalah ini
Kami menyadari bahwasannya kesempurnaan bukanlah
milik manusia.Banyak lubang dalam makalah ini yang perlu untuk ditambal. Oleh karena itu, kritik
dan saran dari pembaca sekalian sangat kami harapkan sebagai bahan revisi untuk
menyempurnakan makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan membawa
hasanah pengetahuan bagi pembaca sekalian.
Kediri, 15 Februari 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
Sampul................................................................................................................... i
Kata Pengantar...................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang............................................................................................... 01 ...............................................................................................................................
1.2
Tujuan............................................................................................................. 02
BAB
II PEMBAHASAN
2.1.... Definisi........................................................................................................ 03
2.2.... Cara Kerja.................................................................................................... 04
2.3.... Efektifitas.................................................................................................... 05
2.4.... Keterbatasan................................................................................................ 06
2.5.... Yang Dapat
Menggunakan Mal................................................................... 06
2.6.... Yang Tidak Dapat Menggunakan Mal........................................................ 07
2.7.... Keadaan Yang Memerlukan Perhatian........................................................ 07
2.8.... Hal Yang
Harus Disampaikan .................................................................... 08
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan..................................................................................................... 11
Daftar Pustaka....................................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Seorang perempuan menjadi subur dan dapat melahirkan
segera setelah ia mendapatkan haid yang peetama, dan kesuburan perempuan akan
terus berlangsung sampai menapause.
Kehamilan dan kelahiran yang terbaik artinya
resikonya lebih rendah untuk ibu dan anak, adalah antara 20-35 tahun sedangkan
persalinan pertama dan kedua paling rendah resikonya bila jarak antara dua
kelahiran adalah 2-4 tahun.
Dari data WHO (1990) didapatkan bahwa diseluruh
dunia terjadi lebih dari 100 x 10(6) senggaama setiap harinya dan terjadi 1
juta kelahiran baru per hari dimana 50% diantaranya tidak direncanakan dan 25%
tidak diharapkan. Dari 150.000 kasus abortus provokantus yang terjadi per hari,
50.000 diantaranya abortus ilegal dan 500 perempuan meninggal akibat komplikasi abortus tiap harinya.
Dari faktor tersebut, kita dapat membuat perencanaan
keluarga sebagai alat penyejahtera para ibu dan anak serta mewujudkan
masyarakat yang sehat. Beberapa alat kontrasepsi yang ditawarkan memiliki
kelebihan dan kekurangan. Metode Amenorea Laktasi merupakan salah satu metode
dalam mengatur pertumbuhan dan kesejahteraan penduduk.
1.
Apa
definisi Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
2.
Bagaimana
cara kerja Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
3.
Apa
keuntungan Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
4.
Apa
kekurangan Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
5.
Apa
indikasi Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
6.
Apa
kontra indikasi Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
7.
Apa
kriteria Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
8.
Apa
intruksi yang diberikan pada penggunaan Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
9.
Bagaimana
keefektifan Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
1. Mahasiswa mampu mengerti dan paham
mengenai pokok bahasan KB Metode Amenorea Laktasi ( MAL ).
2. Mahasiswa
dapat menyebutkan keuntungan dan kekurangan / keterbatasan apa saja dalam
menggunakan KB Metode Amenorea Laktasi ( MAL ).
3. Mahasiswa
dapat mengetahuiindikasi, kontra indikasi dalam menggunakan KB Metode Amenorea
Laktasi ( MAL ).
4. Mahasiswa
dapat mengetahui kriteria menggunakan KB Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) dan;
5. Mahasiswa
dapat mengetahui intruksi yang diberikan serta keefektifan dalam menggunakan KB
Metode Amenorea Laktasi ( MAL ).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI
Metode
Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational
Amenorrhea Method (LAM) adalah metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan
pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya
hanya diberikan ASI saja tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya. Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational
Amenorrhea Method (LAM) dapat dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah (KBA) atau natural
family planning, apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.
Metode Amenore Laktasi ( MAL )
merupakan alat kontrasepsi yang mengandalkan pemberian air susu ibu ( ASI ).
Metode ini dapat dijadikan alat kontrasepsi jika memenuhi syarat, yaitu:
a)
Menyusui
secara penuh ( full breast feeding )
b)
Belum
menstruasi
c)
Usia
bayi kurang dari 6 bulan
d)
Metode
ini bisa efektif sampai 6 bulan
e)
Harus
dilanjutkan dengan pemakaaian metode kontrasepsi lainnya
Penggunaan MAL bagi ibu-ibu
postpartum sebagai metode kontrasepsi dapat diandalkan sepanjang ibu tidak
mengalami ovulasi. Hanya saja yang menjadi persoalannya adalah sampai sekarang
masih sukar sekali untuk menentukan kapan ovulasi akan kembali, kebanyakan (
tetapi tidak semua ) ibu-ibu yang sedang menyusui tidak akan mengalami ovulasi
untuk 4-24 minggu setelah melahirkan, sedangkan ibu-ibu yang tidak menyusui
dapat mengalami ovulasi lebih dini, yaitu 1-2 bulan setelah melahirkan.
Semakin lama ibu tidak menyusui bayinya, menstruasi
akan cenderung cepat kembali selama masa menyusui tersebut, dan makin cenderung
timbul ovulasi yang mendahului menstruasi pertama postpartum. Sebaliknya,
semakin sering bayi mengisap ASI maka semakin lama kembalinya atau tertundanya
menstruasi ibu.
Penelitian Howie dan kawan-kawan (1981) menemukan
bahwa ovulasi tidak akan terjadi bila laktasi yang ketat dipertahankan.
Tampaknya bayi yang mengisap ASI sebanyak 6 kali atau lebih dalam 24 jam,
dengan lama menyusu > 60 menit per 24 jam, serta menyusu pada malam hari,
,merupakan faktor-faktor penting dalam penundaan ovulasi.
Setelah melahirkan, ovulasi dapat terjadi dalam 28
hari bila ibu tidak menyusui bayinya. Ovulasi akan tertunda selama lebih dari
10 minggu dan mungkin selama masa laktasi, asalkan frekuensi, intensitas, dan
kebutuhan bayi diperhatikan.
Meskipun
penelitian telah membuktikan bahwa menyusui dapat menekan kesuburan, namun
banyak wanita yang hamil lagi ketika menyusui. Oleh karena itu, selain
menggunakan Metode Amenorea Laktasi juga harus menggunakan metode kontrasepsi lain seperti metode barier (diafragma, kondom, spermisida), kontrasepsi hormonal (suntik, pil menyusui, AKBK) maupun IUD.
2.2 CARA KERJA
Proses menyusui dapat menjadi metode kontrasepsi alami karena
hisapan bayi pada puting susu dan areola akan merangasang ujung-ujung saraf
sensorik, rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus, hipotalamus akan menekan
pengeluaran faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin namun sebaliknya
akan merangsang faktor- faktor tersebut merangsang hipofise anterior untuk
mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon prolaktin akan merangsang sel–sel
alveoli yang berfungsi untuk memproduksi susu. Bersamaan dengan pembentukan
prolaktin, rangsangan yang berasal dari isapan bayi akan ada yang dilanjutkan
ke hipofise anterior yang kemudian dikeluarkan oksitosin melalui aliran darah, hormon ini
diangkut menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga
terjadilah proses involusi. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan merangsang
kontraksi dari sel akan memeras ASI yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk
kesistem duktulus yang selanjutnya mengalirkan melalui duktus laktiferus masuk
ke mulut bayi.
Hipotesa lain yang menjelaskan efek kontrasepsi pada ibu menyusui
menyatakan bahwa rangsangan syaraf dari puting susu diteruskan ke hypothalamus,
mempunyai efek merangsang pelepasan beta endropin yang akan menekan sekresi
hormon gonadotropin oleh hypothalamus. Akibatnya adalah penurunan sekresi dari
hormon Luteinizing Hormon (LH) yang menyebabkan kegagalan ovulasi
1.
Efektifitas tinggi (98 persen) apabila digunakan selama enam
bulan pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui eksklusif.
3.
Tidak memerlukan prosedur khusus, alat
maupun obat.
7.
Tidak perlu biaya.
8.
Tidak menimbulkan efek samping sistemik.
9.
Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama.
Untuk ibu
2.4 KETERBATASAN
2.
Metode ini hanya efektif digunakan selama 6 bulan setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui secara eksklusif.
2.5 YANG DAPAT MENGGUNAKAN MAL
Metode Amenorea Laktasi (MAL) dapat digunakan oleh wanita yang ingin menghindari kehamilan dan memenuhi kriteria sebagai berikut:
Wanita yang menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), harus menyusui dan memperhatikan hal-hal di bawah
ini:
4.
Tidak mengkonsumsi suplemen.
2.6 YANG
TIDAK DAPAT MENGGUNAKAN MAL
6.
Wanita yang menggunakan obat-obatan jenis ergotamine, anti metabolisme, cyclosporine, bromocriptine, obat
radioaktif, lithium atau anti koagulan.
Metode
Amenorea Laktasi (MAL) tidak direkomendasikan pada
kondisi ibu yang mempunyai HIV/AIDS positif dan TBC aktif. Namun demikian, MAL boleh
digunakan dengan pertimbangan penilaian klinis medis, tingkat keparahan kondisi ibu,
ketersediaan dan penerimaan metode kontrasepsi lain.
2.7 KEADAAN YANG MEMERLUKAN PERHATIAN
Di
bawah ini merupakan keadaan yang memerlukan perhatian dalam penggunaan Metode Amenorea Laktasi (MAL).
Keadaan
|
Anjuran
|
Bayi menyusu kurang dari 8 kali
sehari.
|
|
2.8 HAL YANG HARUS DISAMPAIKAN
Hal yang harus disampaikan kepada klien sebelum menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), klien terlebih dahulu diberikan konseling sebagai berikut:
1.
Seberapa
sering harus menyusui. Bayi disusui sesuai kebutuhan bayi (on demand). Biarkan
bayi menyelesaikan hisapan dari satu payudara sebelum memberikan payudara lain,
supaya bayi mendapat cukup banyak susu akhir. Bayi hanya membutuhkan sedikit
ASI dari payudara berikut atau sama sekali tidak memerlukan lagi. Ibu dapat
memulai dengan 12 memberikan payudara lain pada waktu menyusui berikutnya
sehingga kedua payudara memproduksi banyak susu.
2.
Waktu
antara 2 pengosongan payudara tidak lebih dari 4 jam.
3.
Biarkan
bayi menghisap sampai dia sendiri yang melepas hisapannya.
4.
Susui
bayi ibu juga pada malam hari karena menyusui waktu malam membantu pertahanan
kecukupan persediaan ASI.
5.
Bayi
terus disusukan walau ibu/bayi sedang sakit.
6.
ASI
dapat disimpan dalam lemari pendingin
7.
Kapan
mulai memberikan makanan padat sebagai makanan pendamping ASI. Selama bayi
tumbuh dan berkembang dengan baik serta kenaikan berat badan cukup, bayi tidak
memerlukan makanan selain ASI sampai dengan umur 6 bulan. (Berat Badan naik
sesuai umur, sebelum BB naik minimal 0,5kg, ngompol sedikitnya 6 kali sehari)
8.
Apabila
ibu menggantikan ASI dengan minuman atau makanan lain, bayi akan menghisap
kurang sering dan akibatnya menyusui tidak lagi efektif sebagai metode
kontrasepsi.
9.
Haid
Ketika ibu mulai dapat haid lagi, itu pertanda ibu sudah suburkembali dan harus
segera mulai menggunakan metode KB lainnya.
10.
Untuk
kontrasepsi dan kesehatan Bila menyusui tidak secara eksklusif atau berhenti
menyusui maka perlu ke klinik KB untuk membantu memilihkan atau memberikan
metode kontrasepsi lain yang sesuai.
Beberapa
catatan dari konsensus bellagio (1988) untuk mencapai keefektifan 98%
1) Ibu harus menyusui secara penuh atau
hampir penuh (hanya sesekali diberi 1-2 teguk air/minuman pada upacara
adat/agama)
2) Perdarahan sebelum 56 hari pasca
persalinan dapat diabaikan (belum dianggap haid).
3) Bayi menghisap secara langsung.
4) Menyusui dimulai dari setengah sampai
satu jam setelah bayi lahir.
5) Pola menyusui on demand(menyusui setiap
saat bayi membutuhkan) dan dari kedua payudara.
6) Sering menyusui selama 24 jam termasuk
malam hari.
7) Hindari jarak menyusui lebih dari 4
jam.
Di bawah ini merupakan langkah-langkah menentukan dalam menggunakan kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL).
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Metode amenore
laktasi ( MAL) merupakan salah satu metode kontrasepsi yang mengandalkan
pemberian air susu ibu (ASI ). Metode ini menberikan banyak keuntungan bagi
pemakainya. Selain memberikan keuntungan kontraseptif. Namun sebagai mana layak
nya jenis metode kontrasepsi lainnya,MAL juga mempunyai beberapa keterbatasan.
Metode Amenore
Laktasi (MAL ) bekerja dengan cara menekan atau menunda terjadinya proses
ovulasi,yaitu dengan peningkatan hormon prolaktin sebagai akibat
responsterhadap stimulus pengisapan berulang pada saat menyusui. Penggunaan MAL
bagi ibu pospartum sebagai metode kontrasepsi dapat diandalkan sepanjang ibu
tidak mengalami ovulasi. Semakinlama ibu memulai untuk menyusui
bayinya,menstruasi akan semakin cenderung terjadi kembali selama masa meyusui
tersebut,dan makin cenderung timbul ovulasi yang mendahului menstruasi pertama
postpartum. Sebaliknya, semakin sering mengisap ASI, maka semakin lama
kembalinya atau tertundanya menstruasi ibu.
DAFTAR PUSTAKA
·
Saifudin,
Abdul Bari. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohajo.
·
Varney,
Helen. 2006. Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC.
·
Wikhjosastro,
Hanifa. 2011. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
·
http://www.lusa.web.id/metode-a
menorea-laktasi-mal-atau-lactational-amenorrhea-method-lam/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar