Senin, 16 Februari 2015

METODE AMINORE LAKTASI



MAKALAH
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Pelayanan KB
METODE AMINORE LAKTASI
                                                            
Dosen pembimbing :
Erma Herdiana S.SiT.M.Kes

Disusun oleh: Kelompok
Fahriza Rachmatun Nisak               (Bd.DH.2013.172)
Hilda Nur Choiriyah                        (Bd.DH.2013.078)
Nurul Adha                                       (Bd.DH.2013.092)
Putu Ratih Vika .H                           (Bd.DH.2013.096)
Umi Rohmawati                                (Bd.DH.2013.103)
Via Wulan Puspita                             (Bd.DH.2013.104)

Tingkat II B

AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA KEDIRI
TAHUN AKADEMIK 2014 / 2015





KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT.Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyeleseikan penyusunan makalah yang membahas tentang Metode Aminore Laktasi tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah Pelayanan KB
Dengan terseleseikannya makalah ini, kami mengucapkan terimakasih kepada :
1.        Erma Herdyana, S. SiT, M.Kes , selaku pembimbing yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.
2.        Semua anggota kelompok yang telah bekerjasama untuk menyeleseikan makalah ini

Kami menyadari bahwasannya kesempurnaan bukanlah milik manusia.Banyak lubang dalam makalah ini yang perlu untuk ditambal. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sekalian sangat kami harapkan sebagai bahan revisi untuk menyempurnakan makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan membawa hasanah pengetahuan bagi pembaca sekalian.


                                                                       
                                                                                    Kediri, 15 Februari 2015
                                                                                               
                                                                                                Penyusun

DAFTAR ISI


Sampul................................................................................................................... i
Kata Pengantar...................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................... iii          
                                                                                                                          
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang............................................................................................... 01                                                 ...............................................................................................................................
1.2  Tujuan............................................................................................................. 02

BAB II PEMBAHASAN
2.1.... Definisi........................................................................................................ 03
2.2.... Cara Kerja.................................................................................................... 04
2.3.... Efektifitas.................................................................................................... 05
2.4.... Keterbatasan................................................................................................ 06
2.5.... Yang Dapat Menggunakan Mal................................................................... 06
2.6.... Yang Tidak Dapat Menggunakan Mal........................................................ 07
2.7.... Keadaan Yang Memerlukan Perhatian........................................................ 07
2.8.... Hal Yang Harus Disampaikan .................................................................... 08
2.9.... Keefektifan Metode Amenorea Laktasi ( Mal ).......................................... 09
2.10.. Langkah-Langkah Penentuan Pemakaian Kb Mal....................................... 09

BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan..................................................................................................... 11

Daftar Pustaka....................................................................................................... 12


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         LATAR BELAKANG

Seorang perempuan menjadi subur dan dapat melahirkan segera setelah ia mendapatkan haid yang peetama, dan kesuburan perempuan akan terus berlangsung sampai menapause.
Kehamilan dan kelahiran yang terbaik artinya resikonya lebih rendah untuk ibu dan anak, adalah antara 20-35 tahun sedangkan persalinan pertama dan kedua paling rendah resikonya bila jarak antara dua kelahiran adalah 2-4 tahun.
Dari data WHO (1990) didapatkan bahwa diseluruh dunia terjadi lebih dari 100 x 10(6) senggaama setiap harinya dan terjadi 1 juta kelahiran baru per hari dimana 50% diantaranya tidak direncanakan dan 25% tidak diharapkan. Dari 150.000 kasus abortus provokantus yang terjadi per hari, 50.000 diantaranya abortus ilegal dan 500 perempuan meninggal akibat komplikasi  abortus tiap harinya.
Dari faktor tersebut, kita dapat membuat perencanaan keluarga sebagai alat penyejahtera para ibu dan anak serta mewujudkan masyarakat yang sehat. Beberapa alat kontrasepsi yang ditawarkan memiliki kelebihan dan kekurangan. Metode Amenorea Laktasi merupakan salah satu metode dalam mengatur pertumbuhan dan kesejahteraan penduduk.

1.         Apa definisi Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
2.         Bagaimana cara kerja Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
3.         Apa keuntungan Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
4.         Apa kekurangan Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
5.         Apa indikasi Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
6.         Apa kontra indikasi Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
7.         Apa kriteria Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
8.         Apa intruksi yang diberikan pada penggunaan Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
9.         Bagaimana keefektifan Metode Amenorea Laktasi ( MAL )

1.      Mahasiswa mampu mengerti dan paham mengenai pokok bahasan KB Metode Amenorea Laktasi ( MAL ).
2.       Mahasiswa dapat menyebutkan keuntungan dan kekurangan / keterbatasan apa saja dalam menggunakan KB Metode Amenorea Laktasi ( MAL ).
3.       Mahasiswa dapat mengetahuiindikasi, kontra indikasi dalam menggunakan KB Metode Amenorea Laktasi ( MAL ).
4.       Mahasiswa dapat mengetahui kriteria menggunakan KB Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) dan;
5.       Mahasiswa dapat mengetahui intruksi yang diberikan serta keefektifan dalam menggunakan KB Metode Amenorea Laktasi ( MAL ).


 BAB II
PEMBAHASAN

2.1     DEFINISI



Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method (LAM) adalah metode kontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI saja tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya. Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method (LAM) dapat dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah (KBA) atau natural family planning, apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.
Metode Amenore Laktasi ( MAL ) merupakan alat kontrasepsi yang mengandalkan pemberian air susu ibu ( ASI ). Metode ini dapat dijadikan alat kontrasepsi jika memenuhi syarat, yaitu:
a)             Menyusui secara penuh ( full breast feeding )
b)             Belum menstruasi
c)             Usia bayi kurang dari 6 bulan
d)            Metode ini bisa efektif sampai 6 bulan
e)             Harus dilanjutkan dengan pemakaaian metode kontrasepsi lainnya 

Penggunaan MAL bagi ibu-ibu postpartum sebagai metode kontrasepsi dapat diandalkan sepanjang ibu tidak mengalami ovulasi. Hanya saja yang menjadi persoalannya adalah sampai sekarang masih sukar sekali untuk menentukan kapan ovulasi akan kembali, kebanyakan ( tetapi tidak semua ) ibu-ibu yang sedang menyusui tidak akan mengalami ovulasi untuk 4-24 minggu setelah melahirkan, sedangkan ibu-ibu yang tidak menyusui dapat mengalami ovulasi lebih dini, yaitu 1-2 bulan setelah melahirkan.
Semakin lama ibu tidak menyusui bayinya, menstruasi akan cenderung cepat kembali selama masa menyusui tersebut, dan makin cenderung timbul ovulasi yang mendahului menstruasi pertama postpartum. Sebaliknya, semakin sering bayi mengisap ASI maka semakin lama kembalinya atau tertundanya menstruasi ibu.
Penelitian Howie dan kawan-kawan (1981) menemukan bahwa ovulasi tidak akan terjadi bila laktasi yang ketat dipertahankan. Tampaknya bayi yang mengisap ASI sebanyak 6 kali atau lebih dalam 24 jam, dengan lama menyusu > 60 menit per 24 jam, serta menyusu pada malam hari, ,merupakan faktor-faktor penting dalam penundaan ovulasi.
Setelah melahirkan, ovulasi dapat terjadi dalam 28 hari bila ibu tidak menyusui bayinya. Ovulasi akan tertunda selama lebih dari 10 minggu dan mungkin selama masa laktasi, asalkan frekuensi, intensitas, dan kebutuhan bayi diperhatikan.
Meskipun penelitian telah membuktikan bahwa menyusui dapat menekan kesuburan, namun banyak wanita yang hamil lagi ketika menyusui. Oleh karena itu, selain menggunakan Metode Amenorea Laktasi juga harus menggunakan metode kontrasepsi lain seperti metode barier (diafragma, kondom, spermisida), kontrasepsi hormonal (suntik, pil menyusui, AKBK) maupun IUD.



 

2.2     CARA KERJA

Proses menyusui dapat menjadi metode kontrasepsi alami karena hisapan bayi pada puting susu dan areola akan merangasang ujung-ujung saraf sensorik, rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus, hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin namun sebaliknya akan merangsang faktor- faktor tersebut merangsang hipofise anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon prolaktin akan merangsang sel–sel alveoli yang berfungsi untuk memproduksi susu. Bersamaan dengan pembentukan prolaktin, rangsangan yang berasal dari isapan bayi akan ada yang dilanjutkan ke hipofise anterior yang kemudian dikeluarkan oksitosin melalui aliran darah, hormon ini diangkut menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadilah proses involusi. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan merangsang kontraksi dari sel akan memeras ASI yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk kesistem duktulus yang selanjutnya mengalirkan melalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi.
Hipotesa lain yang menjelaskan efek kontrasepsi pada ibu menyusui menyatakan bahwa rangsangan syaraf dari puting susu diteruskan ke hypothalamus, mempunyai efek merangsang pelepasan beta endropin yang akan menekan sekresi hormon gonadotropin oleh hypothalamus. Akibatnya adalah penurunan sekresi dari hormon Luteinizing Hormon (LH) yang menyebabkan kegagalan ovulasi

2.3     MANFAAT

Metode Amenorea Laktasi (MAL) memberikan manfaat kontrasepsi maupun non kontrasepsi.

Manfaat Kontrasepsi dari MAL antara lain:
1.             Efektifitas tinggi (98 persen) apabila digunakan selama enam bulan pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui eksklusif.
2.             Dapat segera dimulai setelah melahirkan.
3.             Tidak memerlukan prosedur khusus, alat
maupun obat.
4.             Tidak memerlukan pengawasan medis.
5.             Tidak mengganggu senggama.
6.             Mudah digunakan.
7.             Tidak perlu biaya.
8.             Tidak menimbulkan efek samping sistemik.
9.             Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama.

Manfaat non kontrasepsi dari MAL antara lain:
Untuk bayi
1.             Mendapatkan kekebalan pasif.
2.             Peningkatan gizi.
3.             Mengurangi resiko penyakit menular.
4.             Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi air, susu formula atau alat minum yang dipakai.
Untuk ibu
1.             Mengurangi perdarahan post partum/setelah melahirkan.
2.             Membantu proses involusi uteri (uterus kembali normal).
3.             Mengurangi resiko anemia.
4.             Meningkatkan hubungan psikologi antara ibu dan bayi.

2.4     KETERBATASAN

Metode
Amenorea Laktasi (MAL) mempunyai keterbatasan antara lain:
1.             Memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan.
2.             Metode ini hanya efektif digunakan selama 6 bulan setelah melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui secara eksklusif.
3.             Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk Hepatitis B ataupun HIV/AIDS.
4.             Tidak menjadi pilihan bagi wanita yang tidak menyusui.
5.             Kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara eksklusif.

2.5     YANG DAPAT MENGGUNAKAN MAL

Metode
Amenorea Laktasi (MAL) dapat digunakan oleh wanita yang ingin menghindari kehamilan dan memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.             Wanita yang menyusui secara eksklusif.
2.             Ibu pasca melahirkan dan bayinya berumur kurang dari 6 bulan.
3.             Wanita yang belum mendapatkan haid pasca melahirkan.

Wanita yang menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), harus menyusui dan memperhatikan hal-hal di bawah ini:
1.             Dilakukan segera setelah melahirkan.
2.             Frekuensi menyusui sering dan tanpa jadwal.
3.             Pemberian ASI tanpa botol atau dot.
4.             Tidak mengkonsumsi suplemen.
5.             Pemberian ASI tetap dilakukan baik ketika ibu dan atau bayi sedang sakit.\

2.6     YANG TIDAK DAPAT MENGGUNAKAN MAL

Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak dapat digunakan oleh:
1.             Wanita pasca melahirkan yang sudah mendapat haid.
2.             Wanita yang tidak menyusui secara eksklusif.
3.             Wanita yang bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari 6 jam.
4.             Wanita yang harus menggunakan metode kontrasepsi tambahan.
5.             Wanita yang menggunakan obat yang mengubah suasana hati.
6.             Wanita yang menggunakan obat-obatan jenis ergotamine, anti metabolisme, cyclosporine, bromocriptine, obat radioaktif, lithium atau anti koagulan.
7.             Bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan.
8.             Bayi yang mempunyai gangguan metabolisme.

Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak direkomendasikan pada kondisi ibu yang mempunyai HIV/AIDS positif dan TBC aktif. Namun demikian, MAL boleh digunakan dengan pertimbangan penilaian klinis medis, tingkat keparahan kondisi ibu, ketersediaan dan penerimaan metode kontrasepsi lain.

2.7     KEADAAN YANG MEMERLUKAN PERHATIAN

Di bawah ini merupakan keadaan yang memerlukan perhatian dalam penggunaan Metode Amenorea Laktasi (MAL).


Keadaan
Anjuran
Ketika mulai pemberian makanan pendamping secara teratur.
Membantu klien memilih metode kontrasepsi lain dan tetap mendukung pemberian ASI.
Ketika sudah mengalami haid.
Membantu klien memilih metode kontrasepsi lain dan tetap mendukung pemberian ASI.
Bayi menyusu kurang dari 8 kali sehari.
Membantu klien memilih metode kontrasepsi lain dan tetap mendukung pemberian ASI.
Bayi berumur 6 bulan atau lebih.
Membantu klien memilih metode kontrasepsi lain dan tetap mendukung pemberian ASI.

2.8     HAL YANG HARUS DISAMPAIKAN

Hal yang harus disampaikan kepada klien sebelum menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), klien terlebih dahulu diberikan konseling sebagai berikut:
1.             Seberapa sering harus menyusui. Bayi disusui sesuai kebutuhan bayi (on demand). Biarkan bayi menyelesaikan hisapan dari satu payudara sebelum memberikan payudara lain, supaya bayi mendapat cukup banyak susu akhir. Bayi hanya membutuhkan sedikit ASI dari payudara berikut atau sama sekali tidak memerlukan lagi. Ibu dapat memulai dengan 12 memberikan payudara lain pada waktu menyusui berikutnya sehingga kedua payudara memproduksi banyak susu.
2.             Waktu antara 2 pengosongan payudara tidak lebih dari 4 jam.
3.             Biarkan bayi menghisap sampai dia sendiri yang melepas hisapannya.
4.             Susui bayi ibu juga pada malam hari karena menyusui waktu malam membantu pertahanan kecukupan persediaan ASI.
5.             Bayi terus disusukan walau ibu/bayi sedang sakit.
6.             ASI dapat disimpan dalam lemari pendingin
7.             Kapan mulai memberikan makanan padat sebagai makanan pendamping ASI. Selama bayi tumbuh dan berkembang dengan baik serta kenaikan berat badan cukup, bayi tidak memerlukan makanan selain ASI sampai dengan umur 6 bulan. (Berat Badan naik sesuai umur, sebelum BB naik minimal 0,5kg, ngompol sedikitnya 6 kali sehari)
8.             Apabila ibu menggantikan ASI dengan minuman atau makanan lain, bayi akan menghisap kurang sering dan akibatnya menyusui tidak lagi efektif sebagai metode kontrasepsi.
9.             Haid Ketika ibu mulai dapat haid lagi, itu pertanda ibu sudah suburkembali dan harus segera mulai menggunakan metode KB lainnya.
10.       Untuk kontrasepsi dan kesehatan Bila menyusui tidak secara eksklusif atau berhenti menyusui maka perlu ke klinik KB untuk membantu memilihkan atau memberikan metode kontrasepsi lain yang sesuai.


Beberapa catatan dari konsensus bellagio (1988) untuk mencapai keefektifan 98%
1)      Ibu harus menyusui secara penuh atau hampir penuh (hanya sesekali diberi 1-2 teguk air/minuman pada upacara adat/agama)
2)      Perdarahan sebelum 56 hari pasca persalinan dapat diabaikan (belum dianggap haid).
3)      Bayi menghisap secara langsung.
4)      Menyusui dimulai dari setengah sampai satu jam setelah bayi lahir.
5)      Pola menyusui on demand(menyusui setiap saat bayi membutuhkan) dan dari kedua payudara.
6)      Sering menyusui selama 24 jam termasuk malam hari.
7)      Hindari jarak menyusui lebih dari 4 jam.

2.10   LANGKAH-LANGKAH PENENTUAN PEMAKAIAN KB MAL

            Di bawah ini merupakan langkah-langkah menentukan dalam menggunakan kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi (MAL).

BAB III
PENUTUP

3.1     KESIMPULAN
Metode amenore laktasi ( MAL) merupakan salah satu metode kontrasepsi yang mengandalkan pemberian air susu ibu (ASI ). Metode ini menberikan banyak keuntungan bagi pemakainya. Selain memberikan keuntungan kontraseptif. Namun sebagai mana layak nya jenis metode kontrasepsi lainnya,MAL juga mempunyai beberapa keterbatasan.
Metode Amenore Laktasi (MAL ) bekerja dengan cara menekan atau menunda terjadinya proses ovulasi,yaitu dengan peningkatan hormon prolaktin sebagai akibat responsterhadap stimulus pengisapan berulang pada saat menyusui. Penggunaan MAL bagi ibu pospartum sebagai metode kontrasepsi dapat diandalkan sepanjang ibu tidak mengalami ovulasi. Semakinlama ibu memulai untuk menyusui bayinya,menstruasi akan semakin cenderung terjadi kembali selama masa meyusui tersebut,dan makin cenderung timbul ovulasi yang mendahului menstruasi pertama postpartum. Sebaliknya, semakin sering mengisap ASI, maka semakin lama kembalinya atau tertundanya menstruasi ibu.

DAFTAR PUSTAKA

·                Saifudin, Abdul Bari. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohajo.
·                Varney, Helen. 2006. Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC.
·                Wikhjosastro, Hanifa. 2011. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
·                http://www.lusa.web.id/metode-a
menorea-laktasi-mal-atau-lactational-amenorrhea-method-lam/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar