Hai lelaki di ujung sana ! Kapan beringasmu itu akan kau hilangkan ?
Pagi ini aku duduk di atas jendela
kamar seperti kebiasaanku , hanya bedanya aku ada di jendela dapur rumah . Hahah
, iyalah mau kemana lagi . Hanya ini ruangan satu-satunya yang masih tersisa
setelah ludesnya bangunan tempatku tinggal dirubuhkan. Tak apa, karena ayah
menjanjikanku dan keluargaku tinggal lagi di sebuah perumahan tepat di belakang
sebuah pusat perbelanjaan, katanya. Ya, sebut saja sebuah .. pasar. Ayah
sengaja mengibuliku agar aku mau pindah ke perumahan ini.
“Terserah ayahlah, lagian aku sebentar lagi kost” kataku
Rumahku sengaja dibongkar hanya untuk memperlancar usaha ayahku, yaitu dibangun sebuah lahan untuk produksi lebah yang katanya menghasilkan.
“Terserah ayahlah, lagian aku sebentar lagi kost” kataku
Rumahku sengaja dibongkar hanya untuk memperlancar usaha ayahku, yaitu dibangun sebuah lahan untuk produksi lebah yang katanya menghasilkan.
Hari ini memang acara melancong
besar-besaran akan dimulai.
Tepat pukul 10 pagi nanti mereka semua akan mencoba ruangan baru, namun aku tidak. Aku memutuskan tetap disini hanya untuk menunggu kekasihku , si Rendra yang sudah dalam perjalanan dari Surabaya. Dan mamaku mengizinkan aku disini saja sampai Rendra datang.
Tepat pukul 10 pagi nanti mereka semua akan mencoba ruangan baru, namun aku tidak. Aku memutuskan tetap disini hanya untuk menunggu kekasihku , si Rendra yang sudah dalam perjalanan dari Surabaya. Dan mamaku mengizinkan aku disini saja sampai Rendra datang.
Siapa Rendra?
Dia adalah cowoku dari aku kelas 3
SMA dulu dan masih berlanjut hingga sekarang. Memang perjalananku bersamanya
tidak semulus lamanya waktu. Sering sangat pertengkaran demi pertengkaran
terjadi namun masih saja sampai sekarang aku bersamanya. Diam di sebuah jendela
memang sangat menyenangkan. Hanya ini yang kulakukan ketika bentroknya hatiku
dengan kenyataan. Atau hanya untuk mengisi waktu, dengan duduk disandaran
jendelan. Sudah cukup membuatku tenang.
Jam menunjukkan 11 siang,
sepertinya aku sedari tadi sempat terlelap disini, hingga tak sadar Rendra
bingung mencariku karena difikirnya aku telah pulang ke rumah baruku. Karena tidak
ada yang menjemputku lagi, Rendra aku suruh kesini lagi. Jam 12 lebih dia
datang, dengan wajah yang memendam emosi dia menghampiriku. Oh apa yang dia
lakukan, dia menendangku dengan kakinya ke arah wajahku hingga ponselkupun ikut
terlempat jauh karena aku sangat kaget menjawab reaksi kedatangannya. Aku berteriak,
menangis dan merancu tak jelas hanya untuk menenangkan kesakitanku. Lalu siapa
yang akan mendengarku,daerah rumahku terlalu jauh dari rumah lain dan
orang-orangpun sepertinya tidak menghiraukanku. Aku berjalan mengikutinya untuk
pulang kerumah baruku dengan menutupi luka di pipiku, tersadarlah aku bahwa ada
lelehan darah ditanganku. Oh ternyata pipiku sempat berdarah karena tendangan
kaki Rendra. Ah sudahlah aku ingin segera pulang. Menutupi luka di pipiku jauh
lebih penting daripada melihat kedua orangtuaku kebingungan.
Angin sore ini sangat dingin,
daerah rumahku tak berbeda jauh dengan tempat tinggalku kemarin. Masih berada
di desa, hanya lebih dekat dengan pusat perkumpulan masyarakat. Besok pagi aku
sudah harus meninggalkan bumiku ini. Ya, aku akan memulai ujian yang diadakan
kampusku ketika mahasiswinya akan naik ke tingkat atasnya. Inginku memang
segera balik ke tempat kostku , segera menjauh dari Rendra. Aku mencintainya
tapi bukan untuk diperlakukan sedemikian rupa. Mengertikah dia aku ini seorang
yang harusnya dijaganya , entahlah .Sepertinya dia lebih memilih melihatku
tersudut.
Lama ku berfikir, bertahun-tahun
sudah. Mengapa aku masih saja bertahan untuk orang yang tak menghargaiku. Rendra
bukan sosok orang yang keras kepala, hanya saja dia sangat arogan. Yah, apa
bedanya lalu dengan keras kepala?
Pagi datang dan aku mulai bersiap
untuk segera menuju ke stasiun, karena Rendra menolak mengantarku dengan alasan
dia sedang ada kerjaan. Padahal aku tau dia sedang libur dari kuliahnya, terang
saja berkali-kali aku menghubunginya, namun tak ada jawaban. Tiket keretapun
jika harus mendapatkan sekarang sudah tidak mungkin, karena padat sekali
penumpangnya dan tiket habis terjual. Terpaksa aku mulai mencari bis yang
menuju tempatku kuliah, disana ternyata sangat pengap. Tidak berbeda jauh
dengan di kereta. Benar saja ini hari libur Nasional, pasti ramai sekali orang
berlalu-lalang menuju dan keluar kota.
Di bis yang membawaku pergi,
sepertinya aku merasa mual. Aku nggak biasa menaiki bis dengan banyak sekali
orang seperti ini. Aku memutuskan untuk tidur saja daripada muntah ditengah
kerumunan orang seperti ini. Beberapa jam kemudian, sangat heran sekali olehku,
kenapa aku diturunin di depan Rumah Sakit oleh supir bisku, aku mencoba protes tetapi
tidak ada sahutan dari orangnya. Ketika bis sudah pergi menjauhiku, aku mulai
berjalan keluar menuju gerbang, tak terasa olehku , tubuhku sangatlah ringan. Yah,
ringan. Belum sempat aku berfikir lebih jauh lagi, aku melihat dari kejauhan
Rendra berlari kedalam ruangan diikuti dengan kedua orangtuaku. Karena mulai
penasaran aku mengikutinya. Betapa terkejutnya olehku, disitulah aku terbaring
dan aku bisa melihat tubuhku sendiri dari kejauhan. Kulihat Rendra merancu
berteriak menyesal mengapa dia tak mengantarku sendiri saja.
Ternyata kendaraan yang kutumpangi memang mengalami kecelakaan. Tubuhku semakin
ringan, sepertinya aku tak menginjak lagi. Aku terus berdoa kepada Tuhan agar
sebentar saja inginku memeluk ayah dan bundaku. Tapi ada yang menariku, sedikit
demi sedikit aku turun dari menginjakkan kakiku. Ternyata Dokter memompa
jantungku, dan tubuhku meresponnya. Ketika aku melihat bundaku memegang
tanganku, yah aku merasakannya. Tubuhku sepertinya masih menyambut
kedatanganku. 15 menit berlalu, pertama kalinya aku membuka mata diiringi
dengan tangisan mereka yang menyayangiku. Yah sepertinya aku hidup lagi untuk
kedua kalinya. Dan sekarang aku mempunyai semangat untuk memilih meninggalkan
Rendra, memang dia telah menyesal menyakitiku, tapi aku tak bisa hidup bersama
orang yang tidak menjagaku, sudah terlambat sekali untuknya. Aku ingin bersama
mereka saja, bersama kedua orang tuaku, hidup lagi bukanlah persoalan yang
mudah. Aku tak akan menyia-nyiakannya hanya untuk sekedar menemani orang yang
salah. Ayah, bunda, aku menyayangi kalian. Carikanlah kepadaku seseorang yang
benar-benar menjagaku, dan menjaga kalian, kelak ketika ayah dan bunda telah
renta.
Hargai wanita, tak mengertikah engkau bagaimana kecilmu dulu selalu ditimang ibumu dengan kasih sayang hingga engkau terlelap dalam ketiduran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar