Selasa, 23 April 2013

Sepotong Ceritaku yang Kalut


Aku tak mengerti, mengapa aku menemukanmu dalam ketidakmampuanku untuk berdiri lagi. Seperti terapungnya sebuah ranting dalam kolam yang tak menahu ujungnya, seperti itulah kiranya masalah yang kuhadapi kala itu. Aku sungguh tak mengerti, mengapa engkau sanggup datang kepadaku dengan tangan yang terulur mencoba merangkulku untuk tegap kembali. Pesakitan ini seakan membuat diriku berjalan dengan tulang yang sudah terkena kikisan air laut beberapa puluh tahunnya. Ya , aku sungguh rapuh.

             Berkali-kali aku mencoba untuk berdiri lagi, mungkin aku sanggup tapi entah magnet apa yang membuatku kembali dalam liang yang menjeratku dengan peraduan tak tentu arahnya. Kali ini aku telah memutuskan, aku akan menghadapinya. Berimbun daun dikala sore itu yang diterpa angin kelud, telah sanggup membaurkan segala lelehan air mataku. Seakan berjalan tanpa menyeret beban, hati menguatkanku untuk menemuimu, seseorang yang telah membawaku pergi dari laki-laki sepertinya. Aku adalah wanita yang masih sanggup. Aku memutuskan untuk berfikir demikian. Hanya untuk menyemangati diriku sendiri, setelah sekian tahun bersama seseorang yang sengaja, menyiksaku .
Bagaimana aku bisa mencari orang sepertimu ?


            Langit itu masih menekuk meganya, langit itulah yang menunjukan keberadaanmu. Aku boleh saja menatap jalan itu dengan sekuat kemampuanku, tapi dibelakangku, aku masih saja merasa tidak semudah itu meninggalkan kegilaanku yang dulu. Semua memang masih menjadi tanda tanya. Kadang, hujan bisa juga menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba dia mengguyur saja sesukanya, seenak hatinya. Seringkali hujan disalah artikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang akan mengingat kenangannya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Hujan buatku adalah penenang dalam kerinduan, pembawa air mata, dan pengingat rasa kehilangan. Yah, kehilangan. Selalu saja, sesuatu yang harus seseorang lupakan adalah sesuatu yang justru jauh tersimpan begitu dalam, sebuah kenangan.

            Pemuda itu, sederhana saja. Senyumnya menyimpan banyak tanda tanya, tatapannya mengganggu laju kerja otak, dan gerak-geriknya memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindahannya. Lalu, semua terjadi begitu saja. Saat sapa lembutnya menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan dia, mengalir, begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaan. Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.

            Dia mengajariku banyak hal. Cara menari dalam hujan, cara tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan.
Seringkali aku menatapnya dalam-dalam, menyelami sejuk matanya. Mengingatkanku akan pertanyaan yang dulu pernah kuajukan, yang tak kunjung terjawab. Dan aku sendirilah yang harus memutuskan, meninggalkan angin sore yang kelam dan pergi dengan pemuda yang kutemui waktu itu. Ahh, ada apa denganku, cinta tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana, berangsur-angsur tingkatannya berbeda, hingga ia menjelma menjadi dua kata, luar biasa. Perasaan itu tak lagi sekedar teman biasa, tapi dia berevolusi menjadi lebih dari teman biasa. 

           Hanya harap yang kutorehkan pada kertas buram sebagai hatiku ini. Aku telah menjadi milikmu, aku telah mengambil beberapa keputusan yang membuatku berbeda. Benarkah aku telah meninggalkan cerita kala sebelum hujan datang itu ? Ahh, hujan ternyata masih jadi peran antagonis, dia kembali mengingatkanku padamu! Pada orang yang telah meninggalkanku tanpa pamit, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa isyarat dan pengungkapan.

           Sudahlah, aku telah bersamanya, dia yang mengajariku menghargai rintik hujan, menghargai deras rindunya, menghargai butir-butir kenangan halusnya. Aku akan tetap bersamanya, melewati berbagai hujan, bersama mengartikan makna yang telah dijatuhkannya ke bumi depan terasku . :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar