aku ingin terbang bersamamu dan burung-burung di atas sana.
Aku ingin
terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon,
ditemani matahari dan angin
sepoi-sepoi.
Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa
dan hangat
tubuh- selamanya.
Sayangnya,
gravitasi menghalangiku.
Seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa
banyak.
Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan.
Aku rebah di
tanah memejamkan mata kuat-kuat karena airmata yang menderas,
“aku masih di
sini,” bisikmu, selirih angin sore.
Tapi aku tak percaya.
Bagaimana jika saat
aku membuka mata nanti kau benar-benar tiada?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar